
(Pekanbaru, 04 Desember 2025) Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, UIN Suska Riau kembali berbangga dengan bertambahnya Guru Besar (Profesor) melalui Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar yang dilaksanakan pada Kamis, 04 Desember 2025 di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Sebanyak tujuh orang dosen yang mendapatkan gelar Guru Besar, salah satu diantaranya adalah Prof. Dr. Wilaela, M.Ag di bidang Sejarah Pendidikan Islam. Acara dihadiri langsung oleh Pimpinan Universitas, Para Guru Besar, Sivitas Akademika, tamu undangan, serta keluarga besar Prof. Wilaela.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Reaktualisasi Biografi dan Prosopografi sebagai Pendekatan Studi Sejarah Pendidikan Islam,” Prof. Wilaela menegaskan perlunya menghidupkan kembali literatur biografi (tarajim) dan prosopografi (tabaqat) sebagai khazanah penting dalam memahami perkembangan pendidikan Islam dan sebagai sarana membangun keteladanan generasi masa kini.
Dalam pemaparannya, Prof. Wilaela menyoroti terjadinya krisis keteladanan pada era modern yang salah satu penyebab utamanya adalah minimnya literasi sejarah, khususnya terkait kehidupan para tokoh besar Islam yang selama ini menjadi sumber inspirasi moral, intelektual, dan spiritual.
“Generasi hari ini kehilangan banyak teladan karena tidak lagi akrab dengan biografi ulama, cendekiawan, dan tokoh-tokoh pendidikan Islam pada masa lalu. Padahal, biografi dan prosopografi bukan sekadar catatan sejarah, melainkan al-qudwah, sumber keteladanan yang bisa membentuk karakter umat,” tegas Prof. Wilaela.
Beliau menambahkan bahwa pembacaan terhadap kehidupan tokoh, konteks sosial mereka, serta jejaring keilmuan yang tergambar dalam karya-karya tarajim dan thabaqat dapat menjadi sarana rekonstruksi nilai pendidikan Islam yang autentik dan relevan.
Prof. Wilaela mengajak akademisi, peneliti, dan lembaga pendidikan untuk kembali menghidupkan khazanah peradaban Islam melalui pendalaman terhadap biografi tokoh-tokoh terdahulu. Menurutnya, tradisi penulisan biografi dalam Islam tidak hanya memotret perjalanan hidup seseorang, tetapi juga menjadi alat untuk memahami perkembangan ilmu, otoritas keilmuan, hingga dinamika pendidikan pada masa klasik.
“Reaktualisasi studi biografi dan prosopografi merupakan upaya strategis untuk menautkan masa kini dengan kekayaan intelektual masa lalu. Melalui pendekatan ini, pendidikan Islam dapat menemukan kembali jati dirinya sebagai sistem pendidikan berbasis keteladanan,” jelasnya.
Dalam pidatonya, Prof. Wilaela menegaskan sejumlah manfaat penting dari pendekatan biografi dan prosopografi, seperti penguatan keteladanan (role model education), rekonstruksi tradisi keilmuan islam, pemahaman konteks sosial-religius tokoh, penguatan identitas dan jati diri pendidikan islam, sumber inspirasi untuk pembaruan pendidikan, dan pengembangan kurikulum berbasis tokoh.
Mengakhiri pidatonya, Prof. Dr. Wilaela, M.Ag. menyampaikan rasa syukur dan penghargaan mendalam atas gelar Guru Besar yang resmi dianugerahkan kepadanya pada hari ini. Beliau menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan selama proses akademik dan kariernya.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pimpinan Universitas dan Fakultas, kepada Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat. Kepada keluarga saya yang selalu menjadi sumber kekuatan, kepada para kolega dan sahabat akademik yang senantiasa memberikan ruang diskusi dan kolaborasi, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam proses pencapaian jabatan fungsional Guru Besar ini. Semoga amanah ini dapat saya jalankan sebaik-baiknya demi kemajuan pendidikan Islam,” tuturnya.
Acara pengukuhan ditutup dengan doa dan ucapan selamat dari para hadirin, menandai babak baru perjalanan akademik Prof. Wilaela sebagai salah satu Guru Besar UIN Suska Riau.





